Senin, 30 Januari 2023

Kucing dan Harimau

 

Kucing dan Harimau

Karya : ARF

Kasih adalah seekor kucing milik Pak Muslih. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama, baik di rumah maupun saat mereka pergi. Pak Muslih bersama kucingnya, Kasih, tinggal di sebuah desa di pinggir hutan.

“Pus.. pus.. kesini pus..”, begitulah Pak Muslih memanggil kucing kesayangannya itu.

“Meong.. meong..”, Kasih menghampiri Pak Muslih begitu ia dipanggil majikannya.

Pak Muslih dan kucingnya, Kasih, biasa jalan-jalan di sekitar rumah tempat tinggal mereka. Kasih pun sudah hafal dengan wilayah itu.

Tapi pada suatu hari ketika Pak Muslih dan kucingnya sedang jalan-jalan seperti biasa, di jalan mereka bertemu dengan seekor Harimau. Lalu Pak Muslih mencari kayu untuk mengusir Harimau itu.

“Hus.. hus.. pergi sana. Kalau kamu tida pergi, akan kuhabisi kamu!”, kata Pak Muslih mengusir Harimau itu.

“Hau.. hau..”, kata Harimau itu.

Akhirnya Harimau itu pergi, dan Pak Muslih dengan kucingnya, Kasih, melanjutkan jalan-jalan mereka. Namun tak jauh dari tempat mereka bertemu Harimau itu, ada segerombolan perampok yang sudah siap menghadang mereka.

“Bawa kucing itu kemari!”, pemimpin perampok itu berkata.

“Jangan bawa kucing ini!”, kata Pak Muslih, memeluk Kasih erat-erat.

Pak Muslih sangat ketakutan, para perampok itu berusaha mengambil Kasih darinya.

“Bersiaplah untuk mati!”, pemimpin perampok itu menggertak.

“Saya tidak akan memberikan kucing ini kepada kalian!”, kata Pak Muslih.

“Ciaatt..!!”

Siapa sangka jika ternyata Pak Muslih jago bela diri.

Pak Muslih dan para perampok itu berkelahi. Salah satu perampok berhasil mengambil Kasih dari Pak Muslih. Pak Muslih berusaha keras merebut kembali kucing itu hingga ia luka-luka. Namun ia gagal merebutnya kembali. Para perampok itu pergi dengan membawa Kasih.

“Kasih.. aku akan menyelamatkanmu..”, Pak Muslih tersungkur tak berdaya.

Minggu, 29 Januari 2023

The Fairy

 

The Fairy

Karya : Irsyad

Alexa adalah anak tunggal dari Ratu Fairy. Dia mempunyai sahabat bernama Jenna Kim. Setiap hari Alexa bermain dengannya. Namun Jenna hanya tinggal bersama ibunya.

Suatu hari Jenna dan ibunya meninggalkan rumah. Mereka berencana pindah ke desa sebelah, desa Monderland. Namun Jenna tak sempat pamit kepada Alexa. Ibu Jenna juga belum minta ijin kepada Sang Ratu.

Suatu hari Alexa mendatangi rumah Jenna. Saat Alexa sampai sampai ke rumah Jenna, Alexa merasa tidak ada orang di sana. Alexa pun bertanya kepada penghuni rumah sebelah.

“TOK, TOK, TOK”, Alexa mengetuk pintu.

“Persmisi..”

“Iya, ada apa?”, penghuni rumah itu keluar.

“Saya mau tanya.”, kata Alexa.

“Iya, mau bertanya apa?”, kata penghuni rumah itu.

“Di rumah sebelah kok tidak ada orang ya, Bi?”, tanya Alexa.

“Oh, Jenna, dia pindah desa sejak satu minggu yang lalu.”, kata Bibi tetangga Jenna itu.

“Oh gitu. Ya sudah Bi, makasih ya, sudah memberi tahu.”, kata Alexa.

“Sama-sama.”, kata Bibi itu.

Kok dia gak bilang aku ya? Alexa pulang dengan perasaan kecewa.

Dan sesampainya di Istana..

“Ibu!”, Alexa memanggil Ibunda Ratu.

“Iya, kenapa Alexa?”, tanya Ibunda.

“Itu Si Jenna dan Ibunya pergi dari rumah. Katanya mereka pindah.”, kata Alexa.

“Hah, Jenna dan Ibunya pindah?”, Sang Ratu terkejut.

“Iya, dia kok tidak pamit ya?”, tanya Alexa.

“Ini melanggar peraturan!”, Sang Ratu marah.

“Kamu tau dari mana, Alexa?”, tanya Ibunda Ratu.

“Aku tau dari Bibi dekat rumahnya Jenna, Bu.”, kata Alexa.

“Ya sudah. Biarkan saja mereka pergi!”, ucap Sang Ratu.

Beberapa tahun telah berlalu, Alexa maupun Jenna kini sudah beranjak remaja. Alexa sangat merindukan Jenna yang kini berada di desa Monderland.

Suatu hari prajurit memberi tahu semua rakyat Fairy bahwa besok Alexa akan diangkat menjadi Ratu Fairy. Dan pada saat hari itu tiba, semua rakyat berkumpul, Alexa pun mempersiapkan diri untuk penobatan.

“Apakah kamu sudah siap menjadi Ratu, Alexa?”, tanya Ibunda Ratu.

“Aku akan melakukan yang terbaik, Ibu.”, ucap Alexa.

Mahkota pun diletakkan di atas kepala Alexa. Seluruh rakyat Fairy bersorak bergembira. Namun Alexa tampak gelisah sepeti mencari sesuatu. Ibunda Ratu pun menanyainya,

“Kamu mencari apa, Nak?”, tanya Ibunda Ratu.

“Tidak, Bu. Hanya saja aku merasa ada yang kurang.”, ucap Alexa.

“Boleh Ibu tau, apa yang kurang?”, Ibunda Ratu bertanya lagi.

“Si Jenna, Bu. Kenapa dia tidak kesini ya?”, tanya Alexa.

“Kamu itu bagaimana? Orang melanggar peraturan kok dirindukan.”, ucap Sang Ratu.

“Maaf, Bu.”, kata Alexa.

Apa Jenna sudah tidak mengingatku lagi ya? Apakah dia punya sahabat baru?, Alexa masih saja terpikirkan sahabat masa kecilnya itu.

Di desa Monderland, Jenna tidak disukai oleh penduduk. Entah kenapa, sepertinya mereka sangat membencinya.

Kebencian warga desa kepada Jenna membuatnya ingin melakukan sesuatu yang jahat. Ia berencana mencuri kristal istana.

Suatu hari para prajurit berlarian mengejar seseorang. Alexa pun penasaran siapa orang itu. Alexa menyadari kristal istananya hilang. Alexa pun ikut mengejar pencuri itu.

Setelah sekian lama mereka mengejar, namun tidak lantas tertangkap juga. Akhirnya Alexa menggunakan kekuatannya. Alhasil pencuri itu tertangkap, dan Alexa membuka topeng itu. Betapa kagetnya Alexa karena ternyata pencuri itu adalah Jenna, sahabatnya dulu di masa kecil.

Betapa hancur perasaan Alexa mengetahui kebenaran itu. Antara marah dan sedih, bercampur tidak karuan.

Jenna dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah. Alexa pun tidak ingin melihat wajah sahabatnya itu.

Setelah beberapa lama Jenna mendekam di penjara bawah tanah, Alexa pergi mengunjunginya.

“Aku sangat kecewa. Aku tidak ingin mempunyai sahabat sepertimu.”, kata Alexa.

“Maaf, Alexa. Aku tidak akan mencuri kristal itu lagi, aku berjanji.”, kata Jenna.

“Seenaknya saja kamu berbicara seperti itu!”, Alexa masih sangat marah kepada Jenna.

“You and me are not friend anymore, Jenna!”, pungkasnya.

“Alexa! Alexa!! Tolong lepaskan aku.. Beri aku kesempatan.. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi..”, teriak Jenna memanggil Alexa yang pergi meninggalkannya.

Sepuluh tahun berlalu. Masa hukuman Jenna telah habis, dan kini ia dibebaskan. Namun ada kabar sedih dari Istana, Ibunda Ratu sudah tiada. Ia meninggal karena terjatuh dari tangga Istana. Saat ini Alexa jelas sedang sangat bersedih. Seluruh rakyat dan prajurit pun turut berduka cita atas kematiannya. Jenna yang mendengarnya juga ikut sedih, karena bagaimanapun juga, sahabat baik masa kecilnya kehilangan sosok Ibu.

Jenna berencana mencari Alexa untuk meminta maaf.

“Alexa. Maaf, maksud saya, Ratu.”, Jenna menghadap Alexa.

“Ada perlu apa kamu menemuiku?”, tanya Alexa.

“Hamba minta maaf untuk kesalaha yang pernah hamba lakukan. Hamba tidak akan mengulanginya lagi.”, ucap Jenna.

“Kau bisa membuktikannya?”, tanya Alexa.

“Mendekam di penjara membuatku berpikir, bahwa tidak mudah untuk menjadi dirimu. Menjadi anak Ratu, dan kini harus menggantikan Ibunya memimpin kerajaan yang besar ini. Aku merasa tak pantas untuk merasa iri.”, kata Jenna.

“Jadi apa yang kau rencanakan?”, tanya Alexa.

“Kalau masih ada kesempatan kedua, jika Sang Ratu mengijinkan, aku ingin mengabdikan diriku untuk mendampingi Sang Ratu, sahabatku, memimpin kerajaan Fairy ini.”, kata Jenna.

Alexa menyapu pipinya yang seketika basah, menghampiri sahabatnya yang selama ini berpisah. Dia memeluknya dengan erat, erat sekali.

“Terimakasih karena sudah kembali, Jenna. Terimakasih.”, ujar Alexa mengangis haru.

Rabu, 25 Januari 2023

Meo, Tupai yang Lucu

Meo, Tupai yang Lucu

Karya : Ira

Meo adalah seekor tupai yang lucu milik Ani. Tupai tersebut merupakan pemberian dari Ayahnya suatu hari saat Ayahnya pulang kerja.

“Ani, sini, tak kasih Tupai. Namanya Meo. Pelihara dengan baik ya.”, kata Ayah.

“Kok Tupainya dikasih nama Meo?”, tanya Ani.

“Yaa, karena Tupainya lucu. Mirip kucing. Hihi.”, kata Ayah.

“Haha. Bagus kok.”, kata Ani.

“Iya dong, kan Ayah yang ngasih nama.”, kata Ayah.

Pagi itu Ani sangat senang sekali mendapat hadiah Tupai dari Ayahnya. Tapi siang harinya..

“Ayah, Meo-nya mana?”, tanya Ani.

“Ya Ayah ndak tau, kok tanya Ayah.”, kata Ayah.

“Tadi kan tak taruh di kandang.”, kata Ani.

“Ayah ndak tau, Ayah kan lagi nyuci mobil di depan rumah.”, kata Ayah.

Ani mencari Meo di setiap sudut ruangan. Di kamar-kamar, dapur, depan rumah, belakang, atas pohon, hingga atap rumah tetangga.

“Yah, ternyata Meo ada di genteng tetangga!”, teriak Ani.

Ani bergegas mencari tangga untuk mengambil Tupai itu. Tapi tiba-tiba Ayah teriak,

“Ani! Tupainya diambil orang!!”

“Woi, woi, pencuri!”, teriak Ayah mengejar pencuri itu.

Pencuri itu pun berhasil kabur, Ayah tidak mampu mengejarnya.

“Ayah, Ani, ayo kita makan.”, Ibu memanggil Ani dan Ayahnya.

“Sebentar Ibu, Ani lagi nangis.”, kata Ayah.

Sebenarnya Ani sudah merasa lapar, tapi dia harus bertahan, karena dia sedih Tupainya hilang.

Ani masuk ke kamarnya. Pintunya dikunci dan tidak keluar sampai tiga hari.

“TOK-TOK-TOK!”

“Ani, Ani, kapan kamu mau keluar?”, tanya Ayah.

“Iya Ani, sampai kapan kamu mau mengunci diri di kamar? Kamu harus makan, Nak.”, kata Ibu.

Ani tidak menjawab sama sekali. Ayah pun mendobrak pintu kamar Ani dengan lengan atasnya. Pintu kamar terbuka, dan ternyata Ani tidak sadarkan diri.

“Tuh, kan, Ayah bilang juga apa, kalau kamu tidak makan, kamu akan sakit!”, kata Ayah sambil membangunkan Ani.

“Ayo Yah, kita bawa ke Rumah Sakit!”, kata Ibu.

Sesampainya di Rumah Sakit, Ayah langsung mencari Dokter.

“Dokter, gimana ini anak saya, sudah tiga hari mengunci diri tidak mau makan.”, kata Ayah.

“Oh, mungkin karena kehabisan tenaga. Nanti saya periksa.”, kata Dokter.

“Resiko terburuknya apa Dok?”, tanya Ayah.

“Ya kalau dibiarkan ya bisa kena magh, dehidrasi, dan bisa berakibat fatal.”, kata Dokter.

“Suster, tolong bawakan kasur pasien”, Dokter menyuruh asistennya.

Ani segera mendapat penanganan. Masuk kamar pasien, diinpus, dan sesaat kemudian Ani tersadar.

“Ibu, Ayah, aku dimana?”, tanya Ani.

“Kamu di Rumah Sakit, Nak.”, kata Ibu.

“Kenapa aku dibawa ke Rumah Sakit?”, tanya Ani.

“Kamu tadi tidak sadarkan diri.”, kata Ayah.

“Owh.”, kata Ani.

“Ibu, Ayah, aku lapar. Aku mau makan.”, Ani kelaparan.

“Oh, iya Nak, kamu mau makan apa?”, tanya Ibu.

“Apa saja yang penting sehat.”, jawab Ani.

“Oke.”, kata Ibu.

Akhirnya Ani sudah mau makan lagi.

Setelah lima hari dirawat di Rumah Sakit, Dokter mengijinkannya untuk pulang. Kini Ani sudah sembuh. Sudah tidak nangis lagi. Dia sudah bisa berolahraga, makan sayur, buah, dan makanan yang sehat lainnya.

Ani menyadari kesalahannya. Dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Ani sudah mengikhlaskan Tupainya yang hilang. Ani sudah tidak marah dan ngambek lagi. Dia tidak akan mogok makan lagi, karena hanya akan membuatnya sakit. Di samping itu, Ani juga tidak kerasan berada di Rumah Sakit. Karena di Rumah Sakit, Ani tidak bisa shalat, ngaji, dan aktifitas lain seperti biasanya.

Indahnya Perbedaan (3)

Indahnya Perbedaan (3) Karya : Kinanti Siang hari itu, teman-teman Lyodra menghampiri Lyodra untuk diajak bermain di tempat biasa mere...