Meo, Tupai yang Lucu
Karya : Ira
Meo adalah seekor tupai yang lucu milik Ani. Tupai tersebut merupakan pemberian dari Ayahnya suatu hari saat Ayahnya pulang kerja.
“Ani, sini, tak kasih Tupai. Namanya Meo. Pelihara dengan baik ya.”, kata Ayah.
“Kok Tupainya dikasih nama Meo?”, tanya Ani.
“Yaa, karena Tupainya lucu. Mirip kucing. Hihi.”, kata Ayah.
“Haha. Bagus kok.”, kata Ani.
“Iya dong, kan Ayah yang ngasih nama.”, kata Ayah.
Pagi itu Ani sangat senang sekali mendapat hadiah Tupai dari Ayahnya. Tapi siang harinya..
“Ayah, Meo-nya mana?”, tanya Ani.
“Ya Ayah ndak tau, kok tanya Ayah.”, kata Ayah.
“Tadi kan tak taruh di kandang.”, kata Ani.
“Ayah ndak tau, Ayah kan lagi nyuci mobil di depan rumah.”, kata Ayah.
Ani mencari Meo di setiap sudut ruangan. Di kamar-kamar, dapur, depan rumah, belakang, atas pohon, hingga atap rumah tetangga.
“Yah, ternyata Meo ada di genteng tetangga!”, teriak Ani.
Ani bergegas mencari tangga untuk mengambil Tupai itu. Tapi tiba-tiba Ayah teriak,
“Ani! Tupainya diambil orang!!”
“Woi, woi, pencuri!”, teriak Ayah mengejar pencuri itu.
Pencuri itu pun berhasil kabur, Ayah tidak mampu mengejarnya.
“Ayah, Ani, ayo kita makan.”, Ibu memanggil Ani dan Ayahnya.
“Sebentar Ibu, Ani lagi nangis.”, kata Ayah.
Sebenarnya Ani sudah merasa lapar, tapi dia harus bertahan, karena dia sedih Tupainya hilang.
Ani masuk ke kamarnya. Pintunya dikunci dan tidak keluar sampai tiga hari.
“TOK-TOK-TOK!”
“Ani, Ani, kapan kamu mau keluar?”, tanya Ayah.
“Iya Ani, sampai kapan kamu mau mengunci diri di kamar? Kamu harus makan, Nak.”, kata Ibu.
Ani tidak menjawab sama sekali. Ayah pun mendobrak pintu kamar Ani dengan lengan atasnya. Pintu kamar terbuka, dan ternyata Ani tidak sadarkan diri.
“Tuh, kan, Ayah bilang juga apa, kalau kamu tidak makan, kamu akan sakit!”, kata Ayah sambil membangunkan Ani.
“Ayo Yah, kita bawa ke Rumah Sakit!”, kata Ibu.
Sesampainya di Rumah Sakit, Ayah langsung mencari Dokter.
“Dokter, gimana ini anak saya, sudah tiga hari mengunci diri tidak mau makan.”, kata Ayah.
“Oh, mungkin karena kehabisan tenaga. Nanti saya periksa.”, kata Dokter.
“Resiko terburuknya apa Dok?”, tanya Ayah.
“Ya kalau dibiarkan ya bisa kena magh, dehidrasi, dan bisa berakibat fatal.”, kata Dokter.
“Suster, tolong bawakan kasur pasien”, Dokter menyuruh asistennya.
Ani segera mendapat penanganan. Masuk kamar pasien, diinpus, dan sesaat kemudian Ani tersadar.
“Ibu, Ayah, aku dimana?”, tanya Ani.
“Kamu di Rumah Sakit, Nak.”, kata Ibu.
“Kenapa aku dibawa ke Rumah Sakit?”, tanya Ani.
“Kamu tadi tidak sadarkan diri.”, kata Ayah.
“Owh.”, kata Ani.
“Ibu, Ayah, aku lapar. Aku mau makan.”, Ani kelaparan.
“Oh, iya Nak, kamu mau makan apa?”, tanya Ibu.
“Apa saja yang penting sehat.”, jawab Ani.
“Oke.”, kata Ibu.
Akhirnya Ani sudah mau makan lagi.
Setelah lima hari dirawat di Rumah Sakit, Dokter mengijinkannya untuk pulang. Kini Ani sudah sembuh. Sudah tidak nangis lagi. Dia sudah bisa berolahraga, makan sayur, buah, dan makanan yang sehat lainnya.
Ani menyadari kesalahannya. Dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Ani sudah mengikhlaskan Tupainya yang hilang. Ani sudah tidak marah dan ngambek lagi. Dia tidak akan mogok makan lagi, karena hanya akan membuatnya sakit. Di samping itu, Ani juga tidak kerasan berada di Rumah Sakit. Karena di Rumah Sakit, Ani tidak bisa shalat, ngaji, dan aktifitas lain seperti biasanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar