Jumat, 10 Maret 2023

Indahnya Perbedaan (3)

Indahnya Perbedaan (3)

Karya : Kinanti

Siang hari itu, teman-teman Lyodra menghampiri Lyodra untuk diajak bermain di tempat biasa mereka bermain.

“Lyodra... Ayo main...,” teman-teman Lyodra memanggil.

“Iya...” jawab Lyodra.

Tapi saat Lyodra melihat Alfa ikut bersama mereka, ia tidak jadi ikut bermain.

“Eh, nggak jadi deh. Aku ada urusan sama Ibuk,” katanya.

Teman-temannya bingung melihat tingkah Lyodra hari ini, kenapa Lyodra tidak jadi ikut bermain. Lalu mereka pun pergi.

Tidak lama kemudian, Lyodra dan Ibunya mendengar berita bahwa warung makan milik Ayah Alfa baru saja digrebek oleh sekelompok orang berjubah putih. Tidak jelas siapa mereka, karena semuanya memakai penutup muka.

“Wah.. kasihan sekali Pak Cahyo,” kata Ibu Lyodra.

“Siapa Pak Cahyo Buk?” tanya Lyodra.

“Itu, ayahnya teman kamu, Alfa” jawab Ibunya.

“Ooh”

“Lagian, puasa-puasa begini, kenapa mereka tetap jualan Buk?” tanya Lyodra polos.

“Ya nggak papa, itu kan usaha mereka” jawab Ibunya.

“Ayo Lyodra, kita ke tempat Alfa untuk membantu” Ibu Lyodra mengajak Lyodra untuk membantu Ayah Alfa.

“Ah, nggak mau ah Buk! Mereka kan beda sama kita...” Lyodra masih takut dengan Alfa dan Ayahnya, karena mereka berbeda.

“Lo... kamu ini bagaimana?”

“Ya nggak papa. Meskipun mereka beda sama kita, tapi mereka tetap manusia, sama dengan kita. Teman kita, tetangga kita. Saat salah satu dari kita kesusahan, kita harus saling membantu” kata Ibu.

Mereka segera menuju ke tempat Alfa dan Ayahnya.

Sesampainya di warung makan Pak Cahyo, betapa terkejutnya Lyodra melihat semuanya berantakan. Kaca-kaca yang pecah, meja dan kursi jungkir balik tidak karuan, serta lauk-lauk yang berserakan di mana-mana.

Ibu Lyodra menyerahkan amplop berisi beberapa lembar uang untuk membantu kerugian Ayah Alfa.

“Alfa, siapa sih yang grebek warung makan Ayah kamu?” tanya Lyodra ke Alfa saat mereka bertemu di sana.

“Aku nggak tau. Soalnya kata ayah mereka semua memakai penutup muka,” jawab Alfa.

“Makasih ya, kamu dan Ibu kamu sudah mau membantu,” kata Alfa kepada Lyodra.

“Iya, sama-sama”

“Malah, aku mau minta maaf. Karena akhir-akhir ini, aku tidak mau main sama kamu, hanya karena.. kita nggak sama” kata Lyodra.

“Aku paham kok” kata Alfa.

“Tapi sekarang aku paham. Meski kita nggak sama, kita tetap teman kan?” tanya Lyodra menyodorkan tangannya ke arah Alfa.

Sambil tersenyum, Alfa menjabat tangan Lyodra, “Teman!”.

Setelah kejadian itu, Lyodra dan Alfa, serta teman-teman yang lainnya itu, kembali menjadi sahabat baik seperti semula.

Indahnya Perbedaan (2)

Indahnya Perbedaan (2)

Karya : Kinanti

Alfa memang agak berbeda. Dia tidak pernah terlihat di masjid maupun di tempat-tempat mengaji lainnya. Mereka yang baru setahun berteman di SD, belum sepenuhnya mengenal satu sama lain. Setelah berbuka sore itu, Lyodra dan teman-temannya pergi ke rumah Alfa.

Sesampainya di depan rumah Alfa, Lyodra bertanya dengan ayahnya,

“Permisi Om...”

“Iya, ada apa?” tanya Ayah Alfa.

“Om, Alfa nya ada tidak?” tanya Ibrahim.

“Memangnya ada perlu apa kalian kesini?” Ayah Alfa kembali bertanya.

“Om, kok Alfa tidak pernah ikut mengaji?” tanya Lyodra.

“Ya nggak lah! Sana, pergi!” bentak Ayah Alfa menyuruh kami pergi.

Lyodra dan teman-temannya langsung pergi karena takut dengan Ayah Alfa.

Keesokan harinya saat Lyodra jalan-jalan dengan Ibunya, dia melihat sebuah bangunan yang tidak biasa. Sebuah bangunan dengan warna cat dominan merah itu baru pertama kali dilihatnya. Terlebih lagi, dua buah patung naga di atas gentingnya itu, merupakan pemandangan yang sangat asing bagi Lyodra.

Lebih kagetnya lagi, Lyodra melihat Alfa dan Ayahnya di sana sedang menaik-turunkan beberapa lidi yang dibakar ujungnya, sambil sesekali membungkukkan badan mereka. Lyodra semakin penasaran dan takut melihatnya, terutama dengan temannya yang bernama Alfa itu.

Lyodra pun langsung berlari menghampiri Ibunya yang sedang mengobrol dengan tetangga yang kebetulan bertemu kami di jalan.

“Ibu, Ibu!” teriak Lyodra lari menghampiri ibunya.

“Iya, kenapa Dra?” tanya Ibunya.

“Ibu, aku tadi lihat Alfa sama Ayahnya di tempat itu Bu. Aku takut...” kata Lyodra.

“Takut kenapa?” tanya Ibunya lagi.

“Habis, Alfa sama Ayahnya membungkuk-bungkuk sambil pegang lidi yang dibakar Bu...” kata Lyodra.

“Ooh, itu” jawab Ibu Lyodra.

“Jadi gini, Alfa itu bukan muslim seperti kita. Dia Konghucu. Dia kayak gitu, itu caranya dia sama Ayahnya lagi beribadah,” lanjut Ibu Lyodra menjelaskan.

“Hah? Kok gitu?” Lyodra bingung.

“Apa? Konghucu?” ia kembali bertanya.

“Iya. Jadi, Konghucu itu salah satu etnis dan keyakinan yang ada di Indonesia. Ya nggak papa, mereka tetap teman kita,” Ibunya kembali menjelaskan.

Lyodra masih saja bingung dengan penjelasan Ibunya itu. Tak hanya itu, Lyodra kini justru semakin menjaga jarak dengan Alfa.

Indahnya Perbedaan (1)

Indahnya Perbedaan (1)

Karya : Kinanti

Lyodra, anak umur delapan tahun, adalah anak yang taat beribadah. Terutama saat bulan puasa seperti ini, dia banyak menghabiskan waktu di rumah daripada bermain di luar. Alasannya satu, biar tidak cepat haus. Dia tinggal di sebuah desa bernama Desa Mentari.

Saat tengah hari, Lyodra menonton video di HP ibunya. Anehnya, saat bulan puasa seperti ini, yang lebih sering muncul adalah video-video seputar makanan. Karena tak ingin tergoda, Lyodra ganti menonton TV. Dan ternyata sama saja, hampir setiap menit ada iklan sirup yang menyegarkan berseliweran di sana.

Akhirnya Lyodra memutuskan untuk bermain di luar bersama teman-temannya.

“Ibu, aku mau main aja ah. Di TV isinya cuma iklan sirup mulu. Bikin haus aja!” ucap Lyodra.

“Ya sudah, kalau kamu mau main,” jawab Ibunya.

“Oke Bu. Dada.. aku mau main ya...”

Bersama teman-temannya, Lyodra bermain petak umpet. Selesai bermain, Lyodra merasa haus.

“Lyodra, kamu haus? Beli es di warung yuk...” ajak temannya yang bernama Raya.

“Hah? Aku kan puasa. Emang kamu gak puasa?” tanya Lyodra.

“Gak papa, batalin aja. Kamu haus kan?” kata Raya.

“Emang boleh ya, kita batalin puasa gara-gara haus main?”

“Boleh aja! Kita kan masih anak-anak...”

“Ayo deh”

Mereka ke warung dan membeli es di sana.

Setelah dari warung, Lyodra pun pulang. Sesampainya di rumah, dia ditanya sama ibunya.

“Lyodra, gimana puasanya? Masih lanjut kan?” tanya Ibu sambil mengupas bawang merah di dapur.

“Hehehe, aku batal Buk,” jawab Lyodra polos.

“Habis, tadi diajak teman-teman...”

Ibu Lyodra meletakkan pisau yang sedari tadi ia pegang dan menghela nafas, “... Ya sudah kalau begitu. Tapi besok lagi jangan diulangi lagi ya...”

Keesokan harinya, setelah selesai bermain bersama teman-temannya, Lyodra pulang dengan mulut yang belepotan. Ibunya kembali menanyainya,

“Kamu habis batal puasa lagi?” tanya Ibu.

“I-iya Bu, maaf...” jawab Lyodra lirih.

“Sini ikut Ibuk...” Ibu menyeret Lyodra ke kamar dan menguncinya di dalam.

“Ibu, maaf Bu.. Aku gak akan mengulanginya lagi...” teriak Lyodra sambil nangis di dalam kamar.

Lyodra dikunci ibunya di dalam kamar, dan tidak dibukakan pintu sampai tiba waktu buka puasa. Lyodra benar-benar menyesali perbuatannya.

Keesokan harinya, Lyodra masih pergi bermain lagi bersama teman-temannya.

“Lyodra, jajan di warung yuk!” ajak teman-temannya.

“Nggak ah!” jawab Lyodra tegas.

“Kenapa Dra?” tanya Si Raya.

“Nanti aku dimarahin sama Ibu,” jawab Lyodra.

“Emang kenapa kalau batal puasa Dra?” kata Alfa, teman Lyodra yang sepertinya tidak tau apa-apa soal puasa Ramadhan.

“Ayo teman-teman, kita tinggalin aja Lyodra...”

Teman-teman Lyodra ke warung tanpa Lyodra. Mereka mengejek Lyodra karena tidak mau diajak jajan di warung. Lyodra menangis dan pulang ke rumah.

“Kamu kenapa?” tanya Ibu.

“Aku dibully teman-teman Bu, gara-gara nggak mau diajak jajan di warung...” jawab Lyodra.

“Ya sudah, nggak papa,” kata Ibu.

“Justru ini lebih baik buat kamu” Ibu menambahkan.

Setelah Lyodra berhenti menangis, dia diajak ibunya ke masjid untuk mengaji.

“Nah, gini kan baik. Saat bulan puasa, itu perbanyak ibadah, bukannya main...” kata Ibu.

Lucunya, saat perjalanan menuju ke masjid, Lyodra beserta ibunya bertemu Raya, Alfa, dan Ibrahim sedang dimarahi oleh ayah dan ibu mereka, pulang dari warung tempat tadi mereka jajan. Dan tak lama setelah itu, Raya dan Ibrahim ternyata juga ikut mengaji di masjid. Tapi Lyodra tidak melihat Alfa.

“Bahim, Alfa mana?” tanya Lyodra.

“Tau tuh...” jawab Ibrahim.

 

 

Indahnya Perbedaan (3)

Indahnya Perbedaan (3) Karya : Kinanti Siang hari itu, teman-teman Lyodra menghampiri Lyodra untuk diajak bermain di tempat biasa mere...