Selasa, 21 Februari 2023

Si Pintar yang Tampan (Part 1)

Si Pintar yang Tampan (Part 1)

Karya : Kinanti

Heri anak tunggal. Dia anak yang pintar. Dan wajahnya cukup tampan menurutku. Kami duduk di kelas lima. Kami sekelas.

Rumah Heri kebetulan hanya berjarak lima meter dari rumahku. Ayahnya bekerja di luar kota, dia di rumah hanya tinggal bersama ibunya. Di kelas, Heri disukai banyak anak perempuan.

“Berangkat ya, Heri?”, tanyaku.

“Iya nih. Berangkat bareng yuk.”, jawab Si Heri, mengajakku berangkat sekolah bareng.

(Waah, ini serius? Kesempatan nih, diboncengin sama Heri) gumamku dalam hati.

“Heh, kok diam sih. Jawab, mau nggak?”, tanya Heri.

“I-iya, aku mau.”, jawabku.

Kami berangkat sekolah bersama. Hatiku pun berbunga-bunga.

Setelah sampai di sekolah, aku pun langsung masuk kelas. Saat di kelas, Alex, Si Ketua Kelas melihatku sedang bersama Heri.

“Lex, kenapa kok gitu mukamu?”, tanya Heri.

“Oh, gapapa kok. Santai aja.”, jawab Si Alex.

“Oh ya sudah. Permisi ya.”, kata Alex.

“Oke.”, jawab Alex.

Wajah Alex tidak seperti biasanya. Dia seperti tidak suka aku dekat dengan Heri, tapi Alex hanya diam. Aku heran dengan Alex yang bertingkah seperti itu.

Saat jam istirahat, Heri sedang berada di WC siswa.

“Her, maumu apa dekati anak perempuan yang aku suka!?”, tanya Alex datang tiba-tiba.

“Maksudmu apa?”, jawab Si Heri.

“Teman-teman, maju!”, Alex menyuruh teman-temannya.

“Siap!”, jawab teman-temannya.

Heri ditampar dan dindang oleh teman-teman Alex.

“Braakk!!”, Heri ditendang hingga terlempar ke pintu WC dan kemudian disiram air.

“Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian membullyku?”, tanya Heri kesakitan.

“Hahahaha!!”, Alex dan teman-temannya tertawa dan meninggalkannya di WC.

Keesokan harinya Heri tidak berangkat sekolah. Aku penasaran, tidak biasanya Heri tidak berangkat sekolah.

Saat di kelas, tiba-tiba Ayah Heri datang menemui Pak Robi, guru kelas kami.

Aku semakin penasaran, pasti ada hubungannya dengan Alex.

“Alex.”, aku memanggil Si Ketua Kelas yang sok itu.

“Eh iya, ada apa Yes?”, tanya Alex kepadaku.

“Aku mau tanya.”

“Tanya apa?”

“Kemarin kamu sama Heri kan?”, tanyaku.

“Iya, memangnya kenapa?”, Alex balik bertanya.

“Sekarang Heri tidak masuk sekolah. Apa ini ada hubungannya sama kamu?”, tanyaku lagi.

“Nggak tau tuh.”, jawab Alex, tidak mau mengakui perbuatannya.

Saat istirahat, aku pergi ke kantin. Aku melihat Ayah Heri sedang memarahi Alex. Dugaanku semakin kuat bahwa ini adalah perbuatan Si Alex.

Keesokan harinya, Heri berangkat sekolah. Alex menemui Heri dan semakin benci dengan Heri.

“Heri, kamu mengadu sama ayahmu ya?”, tanya Alex.

“Mengadu apa?”, tanya Heri.

“Halah, jangan sok nggak tau deh kamu!”, jawab Alex.

“Maksud kamu apa Lex?”, tanya Heri.

“Teman-teman, hajar dia!”, Alex menyuruh teman-temannya menghajar Heri lagi.

“Siap Lex!”, jawab teman-temannya.

Heri dibawa ke kamar mandi lagi. Dia dihajar dan disiram air lagi oleh teman-teman Alex.

Heri kedinginan dan kesakitan. Tangan dan kakinya lebam terkena hantaman-hantaman teman-teman Alex. Aku yang mengintip dari luar tak berani berbuat apa-apa.

Namun kali ini Heri tidak hanya tinggal diam. Dia pun membalas, dan akhirnya mereka berkelahi.

Seorang guru yang mendengar di kamar mandi ada keributan langsung bergegas menghampirinya. Ditemukannya Heri, Alex, dan teman-temannya sedang berkelahi. Langsung saja Pak Guru membawa mereka ke ruang kepala sekolah.

Di ruang kepala sekolah, Heri, Alex, dan teman-temannya kena marah semuanya.

“Kalian ini, sudah besar kok masih saja suka berkelahi! Gak malu apa sama adik-adik kalian!?”, ucap kepala sekolah memarahi mereka.

“Dalam hal ini, baik Alex maupun Heri, semuanya bersalah!”, tegas pak kepala sekolah.

“Alex bersalah karena sudah membully teman!”

“Heri juga salah, karena melaporkan masalah di sekolah tidak kepada bapak-ibu guru di sekolah, tapi langsung bilang ke orang tua di rumah!”

“Yang lain juga, mau saja disuruh Alex untuk membully teman lainnya.”

Begitulah pak kepala sekolah menjelaskan kesalahan mereka. Mereka hanya menunduk tak berani berkata apa-apa.

“Janji tidak akan diulangi lagi!?”, tanya pak kepala sekolah memperingatkan mereka.

“Iya Pak, kami janji tidak akan mengulanginya lagi.”, jawab mereka serentak.

“Sekarang, kalian harus bermaafan!”, kata pak kepala sekolah.

“Maaf ya, Alex..” Heri menyodorkan tangannya ke Alex.

“Tidak!”, Alex menolak ajakan damai dari Heri.

“Loh, kenapa kamu menolak, Alex?”, pak kepala sekolah marah lagi.

Tiba-tiba Alex mendekat ke telinga Heri dan membisikkan sesuatu.

“Aku mau kita damai, tapi ada syaratnya.”, bisik Alex ke telinga Heri.

“Apa syaratnya?”, tanya Heri.

“Syaratnya, kamu tidak boleh mendekati Ayesha!”, jawab Alex.

“Oh, itu. Mudah saja.”, jawab Heri.

“Oke, kalau gitu kita damai.”, kata Alex sambil menjabat tangan Heri.

Setelah kejadian itu, Alex dan Heri terlihat akur kembali. Namun anehnya, Heri jadi agak menjaga jarak denganku.

Kedai Pak Somad

Kedai Pak Somad

Karya : Aqila

Sebuah kedai di suatu desa selalu ramai dipenuhi pengunjung. Selain karena menu jajanannya yang enak-enak, penjualnya juga ramah. Kedai itu sudah berdiri sejak tahun 1995. Kedai Pak Somad, begitulah mereka mengenalnya.

Pak Somad selalu mengutamakan kepuasan pelanggan-pelanggannya. Kedainya sangat terkenal. Semua orang suka jajan di sana. Dia punya seorang istri bernama Ibu Aliyah, dan seorang putri bernama Alisa Putri Kirana. Mereka hidup sangat bahagia.

“Bapak, Bapak lagi bikin apa?”, tanya Ibu Aliyah.

“Bapak lagi bikin adonan bakwan Buk.”, kata Pak Somad.

“Ooh. Perlu Ibuk bantuin?”, tanya Ibu Aliyah.

“Gak usah. Sana, jaga kedai saja, ini biar Bapak yang urus.”, ucap Pak Somad.

“Ya udah, Ibuk ke depan saja ya.”, kata Ibu Aliyah.

Begitulah suasana kehangatan di keluarga itu. Di tengah kesederhanaan, mereka selalu bahu-membahu menggarap kedai milik mereka bersama.

Setiap pagi, setelah Pak Somad mandi, sarapan, dan sebagainya, ia membuka kedainya dengan penuh semangat. Menata jajanan-jajanan dengan rapi. Tak lupa juga Pak Somad selalu memperhatikan kebersihan kedainya itu.

Salah satu pelanggan setia Pak Somad adalah Ibu Selli. Dia selalu menyempatkan diri untuk jajan di kedai Pak Somad, meski itu hanya sebuah roti atau gorengan.

“Sudah ini aja Buk? Makasih ya. Besok mampir lagi. Mari, silakan..”, Pak Somad melayani pelanggannya dengan sepenuh hati.

Pak Somad jaga kedai di depan, sedangkan Ibu Aliyah bikin adonan roti di belakang.

Hari sudah sore, Ibu Aliyah memanggil Kirana untuk makan.

“Kirana, sini makan dulu..”, kata Ibu Aliyah.

“Iya Bu. Tapi aku lagi main. Nanti aja makannya.”, kata Kirana.

“Ya sudah. Tapi nanti dimakan ya makanannya.”, lata Ibu Aliyah.

“Oke Bu..”, kata Kirana.

Setelah lelah bermain, Kirana akhirnya makan. Setelah makan kemudian dia pulang untuk tidur, karena hari sudah mulai larut malam.

Keesokan harinya Pak Somad ditemani istri dan anaknya membuka kedainya seperti biasa. Namun hari ini kedai agak sepi. Sedari pagi hingga sore hanya ada satu pelanggan yang datang untuk membeli jajan. Sampai hari gelap kedainya masih sepi, kemudian Pak Somad menutup kedainya dan pulang untuk istirahat.

Hari sudah berganti. Pak Somad tetap semangat bangun pagi untuk untuk membuka kedainya. Datanglah seorang pria untuk membeli roti.

“Pak, rotinya bikin sendiri?”, tanya pembeli itu yang ternyata namanya adalah Pak Mokir.

“Iya, roti ini saya yang bikin.”, kata Pak Somad.

“Ooh, ya sudah. Saya pergi dulu. Makasih ya Pak..”, kata Pak Mokir.

Orang itu pergi begitu saja.

“Pak, itu siapa?”, tanya Bu Aliyah.

“Katanya sih namanya Mokir.”, jawab Pak Somad.

“Pak Mokir? Kaya baru dengar.”, kata Bu Aliyah.

“Iya, Bapak Juga. Di desa kita kan gak ada orang yang namanya Mokir.”, kata Pak Somad.

Keesokan harinya lagi, ketika Pak Somad sedang membuka kedainya lagi, tiba-tiba Ibu Selli datang bersama temannya.

“Wah, Ibu-ibu cantik. Mau beli apa, kok pagi-pagi sekali sudah datang?”, tanya Pak Somad.

“Pak Somad! Pak Somad jualan makanan basi ya?!”, tanya Ibu Selli.

“Kata siapa?”, tanya Pak Somad.

“Aku dengar dari ibu-ibu yang lain, katanya jualan Pak Somad basi semua.”, kata Ibu Selli.

“Wah, nggak bener itu. Waktu itu Ibu Selli juga beli roti dan gorengan di sini kan? Gak papa kan?”, kata Pak Somad.

“Kan itu sudah lama.”, kata Ibu Selli.

“Kayaknya bener deh, sekarang Pak Somad jualan makanan basi.”, kata Ibu Selli sambil nyungir-nyungir.

“Ayo jeng, kita pulang.”, Ibu Selli pergi bersama temannya itu.

Tidak lama setelah ibu-ibu rempong itu pulang, tiba-tiba saja Pak RT dan warga yang lainnya datang ke kedai Pak Somad.

“Pak Somad, keluar sekarang!”, teriak Pak RT.

“Iya, ada apa ya Pak, kok datang ke kedai saya ramai-ramai seperti ini?”, tanya Pak Somad.

“Pak Somad jualan makanan basi ya!?”, tanya Pak RT.

“Tidak Pak, saya tidak jualan makanan basi.”, kata Pak Somad.

“Kalau tidak percaya, coba saja cicipin jajajan saya.”, kata Pak Somad sambil menyodorkan aneka jajanannya.

Pak RT dan beberapa pemuda kekar lainnya mencicipi jajanan Pak Somad.

“Iya Pak, enak.”, kata salah satu pemuda itu setelah mencicipi jajanan Pak Somad.

“Ya sudah Pak Somad. Kalau gitu kita pamit.”, kata Pak RT.

Pak Somad heran, sebenarnya siapa yang menyebarkan hoax bahwa Pak Somad menjual makanan-makanan basi.

Suatu hari saat Ibu Aliyah, istri Pak Somad sedang belanja di luar, ia melihat dua orang pria sedang bercakap-cakap. Samar-samar ia mendengar, salah satu di antara mereka bernama Mokir. Dan mereka sedang membicarakan sebuah kedai yang katanya berhasil mereka buat sepi.

Ibu Aliyah mengingat seseorang bernama Mokir yang pernah beli jajan di kedai Pak Somad. Ibu Aliyah menyadari, ternyata Si Mokir itulah yang menyebarkan isu bahwa Kedai Pak Somad menjual makanan-makanan basi.

Ternyata Mokir adalah suruhan seseorang yang sedang membuka kedai baru. Agar kedai barunya ini ramai pembeli, ia menyuruh Mokir untuk menyebarkan isu tidak benar tentang Kedai Pak Somad.

Ibu Aliyah bergegas pulang untuk menceritakan hal ini kepada Pak Somad. Pak Somad kaget, ternyata pelakunya adalah seseoang yang bernama Mokir itu.

Pak Somad berniat mendatangi kedai pesaingnya itu untuk memberi pelajaran.

“Mohon maaf, ada perlu apa ya Pak?”, kata pesaing Pak Somad, mengetahui Pak Somad datang mencarinya.

“Sebelumnya perkenalkan, nama saya Somad.”, kata Pak Somad.

“Cuma mau bilang. Kamu itu, kalau mau buka kedai, mbok ya jangan dengan cara yang tidak baik.”, tambah Pak Somad.

“Ooh, jadi Pak Somad sudah tau ya. Syukur deh, kalo gitu saya gak perlu kasih tau.”, kata pesaing Pak Somad itu cengingisan.

Pak Somad pulang karena tak ingin masalahnya menjadi panjang.

Keesokan harinya Pak Somad kembali ke kedai baru pesaingnya itu. Pak Somad mencari Mokir dan pesaingnya untuk diajak berdamai.

“Begini, Mas. Jadi maksud kedatangan saya kesini, adalah untuk berdamai. Saya tidak ingin masalahnya menjadi panjang.”, kata Pak Somad.

“Tapi saya mohon, untuk tidak diulangi lagi.”, tambahnya.

“Kalau kalian masih mengulanginya lagi, dengan terpaksa akan saya bawa ke ranah hukum.”, ujar Pak Somad mengancam kedua pemuda itu.

“Iya Pak.”, kata Pak Mokir dan pesaing Pak Somad itu ketar-ketir.

Sekarang Pak Somad bisa pulang ke rumah untuk membuka kedainya dengan tenang. Pak Somad kembali beraktifitas mengelola kedai bersama keluarganya dengan penuh senyuman dan tawa, karena pesoalan penyebar isu itu sudah teratasi.

 

Senin, 20 Februari 2023

Jangan Sombong

Jangan Sombong

Karya : Rizma

Aska adalah anak kelas lima sekolah dasar, dia tinggal di Semarang. Aska sangat rajin sekali mengerjakan pekerjaan rumahnya. Dia mempunyai teman bernama Rio dan Rayyan.

Suatu hari saat Aska berangkat ke sekolah, dia bertemu dengan sahabat dekatnya, Rio.

“Rio, kamu sudah mengerjakan PR?”, tanya Aska.

“Sudah. Kalau kamu Aska, kamu sudah ngerjain PR?”, tanya Rio.

“Udah sih, tapi nomor lima belum, susah.”, jawab Aska.

“Aku udah nomor lima.”, kata Rio.

“Serius? Boleh nyontek gak?”, tanya Aska.

“Tapi kan, kata Bu Guru gak boleh nyontek.”, jawab Rio.

“Ya udah deh.”

“Tapi kalo aku dihukum gimana?”, tanya Aska dengan wajah memelas.

“Tuh Bu Guru datang.”, kata Rio.

“Anak-anak, besok ada pengumuman juara kelas ya.”, kata Bu Guru.

“Iya Bu.”, jawab murid-murid.

Keesokan harinya, pengumuman juara kelas pun dimulai.

“Pemenangnya adalah.. Aska..”, kata Bu Guru sambil membimbing anak-anak untuk bertepuk tangan.

“Yei.. akhirnya aku menang.”, kata Aska.

Murid-murid yang lain hanya melongo melihat Aska yang cengengesan berbinar-binar mendapat sanjungan dari teman-teman sekelas. Karena mereka tak habis pikir, bagaimana bisa Aska menjadi juara kelas. Padahal kemampuannya selalu pas-pasan.

“Apa? Pada iri ya sama aku? Aku kan paling pintar di sekolah ini. Hahaha..”, kata Aska dengan senangnya.

Sejak Aska mendapat juara kelas, dia menjadi sangat sombong sekali.

Keesokan harinya..

“Selamat ya Aska.”, kata Rio.

“Siapa kamu? Sok kenal!”, kata Aska.

“Aku temanmu, Rio, Aska!”, jawab Rio.

“Kayaknya aku gak punya teman yang namanya Rio deh.”, ucap Aska.

“Masa kamu lupa sama temanmu sendiri sih.”

“Ya sudah, aku pergi saja. Kelihatannya kamu sudah punya teman baru.”, kata Rio dengan sedih.

Aska tidak mau lagi berteman dengan Rio. Malah Aska lebih memilih berteman dengan anak-anak yang populer di sekolah.

Hingga suatu hari..

“Aska, aku pinjam uang dong. Kamu kan habis jadi juara kelas.”, kata Rayyan, salah satu teman baru Aska.

“Loh, kemarin kan kamu sudah tak pinjamin.”, ucap Aska.

“Pelit banget sih!”, Rayyan membentak Aska.

“Asal kamu tau ya, kamu tuh gak pantas jadi juara kelas.”, kata Rayyan.

“Ayo teman-teman, Aska tidak pantas jadi teman kita. Hahaha.”, Rayyan tertawa bersama teman-teman lainnya pergi meninggalkan Aska.

Ternyata Aska hanya dimanfaatkan oleh teman-teman barunya. Aska menyesal. Dia teringat dengan teman lamanya, Rio, dan ingin berteman lagi dengannya.

“Rio.”, Aska menghampiri Rio yang sedang duduk sendiri di taman.

“Kenapa? Katanya kamu tidak kenal sama aku.”, kata Rio.

“Maafin aku ya. Aku menyesal karena pura-pura tidak kenal kamu. Aku terbawa suasana. Ternyata anak-anak itu hanya manfaatin aku.”, ucap Aska.

Rio terdiam seolah tak menghiraukannya.

“Kamu marah ya?”, Aska semakin sedih karena teman lamanya sepertinya tak mau lagi menerimanya.

Namun tiba-tiba Rio tersenyum.

“Hahaha. Aska, Aska.”

“Aku sudah maafin kamu kok.”, kata Rio.

“Benarkah?”, tanya Aska.

“Tapi dengan satu syarat, jangan diulangi lagi ya.”, kata Rio.

“Iya, aku tidak akan mengilanginya lagi.”, kata Aska.

“Kalo gitu bagus deh.”, kata Rio.

“Makasih ya Rio, kamu sudah maafin aku dan mau menerimaku jadi temanmu lagi.”, kata Aska.

“Loh, kamu masih tetap jadi temanku kan?”, kata Rio.

“Hahahahaa..”, mereka tertawa bersama.

Dan akhirnya Aska dan Rio berteman kembali. Mereka tidak peduli jika suatu saat ada penghargaan-penghargaan lain lagi yang mungkin saja membuat mereka terkenal di sekolah, mereka tetap bersahabat selamanya.

 

Indahnya Perbedaan (3)

Indahnya Perbedaan (3) Karya : Kinanti Siang hari itu, teman-teman Lyodra menghampiri Lyodra untuk diajak bermain di tempat biasa mere...