Kedai Pak Somad
Karya : Aqila
Sebuah kedai di suatu desa selalu ramai dipenuhi pengunjung. Selain karena menu jajanannya yang enak-enak, penjualnya juga ramah. Kedai itu sudah berdiri sejak tahun 1995. Kedai Pak Somad, begitulah mereka mengenalnya.
Pak Somad selalu mengutamakan kepuasan pelanggan-pelanggannya. Kedainya sangat terkenal. Semua orang suka jajan di sana. Dia punya seorang istri bernama Ibu Aliyah, dan seorang putri bernama Alisa Putri Kirana. Mereka hidup sangat bahagia.
“Bapak, Bapak lagi bikin apa?”, tanya Ibu Aliyah.
“Bapak lagi bikin adonan bakwan Buk.”, kata Pak Somad.
“Ooh. Perlu Ibuk bantuin?”, tanya Ibu Aliyah.
“Gak usah. Sana, jaga kedai saja, ini biar Bapak yang urus.”, ucap Pak Somad.
“Ya udah, Ibuk ke depan saja ya.”, kata Ibu Aliyah.
Begitulah suasana kehangatan di keluarga itu. Di tengah kesederhanaan, mereka selalu bahu-membahu menggarap kedai milik mereka bersama.
Setiap pagi, setelah Pak Somad mandi, sarapan, dan sebagainya, ia membuka kedainya dengan penuh semangat. Menata jajanan-jajanan dengan rapi. Tak lupa juga Pak Somad selalu memperhatikan kebersihan kedainya itu.
Salah satu pelanggan setia Pak Somad adalah Ibu Selli. Dia selalu menyempatkan diri untuk jajan di kedai Pak Somad, meski itu hanya sebuah roti atau gorengan.
“Sudah ini aja Buk? Makasih ya. Besok mampir lagi. Mari, silakan..”, Pak Somad melayani pelanggannya dengan sepenuh hati.
Pak Somad jaga kedai di depan, sedangkan Ibu Aliyah bikin adonan roti di belakang.
Hari sudah sore, Ibu Aliyah memanggil Kirana untuk makan.
“Kirana, sini makan dulu..”, kata Ibu Aliyah.
“Iya Bu. Tapi aku lagi main. Nanti aja makannya.”, kata Kirana.
“Ya sudah. Tapi nanti dimakan ya makanannya.”, lata Ibu Aliyah.
“Oke Bu..”, kata Kirana.
Setelah lelah bermain, Kirana akhirnya makan. Setelah makan kemudian dia pulang untuk tidur, karena hari sudah mulai larut malam.
Keesokan harinya Pak Somad ditemani istri dan anaknya membuka kedainya seperti biasa. Namun hari ini kedai agak sepi. Sedari pagi hingga sore hanya ada satu pelanggan yang datang untuk membeli jajan. Sampai hari gelap kedainya masih sepi, kemudian Pak Somad menutup kedainya dan pulang untuk istirahat.
Hari sudah berganti. Pak Somad tetap semangat bangun pagi untuk untuk membuka kedainya. Datanglah seorang pria untuk membeli roti.
“Pak, rotinya bikin sendiri?”, tanya pembeli itu yang ternyata namanya adalah Pak Mokir.
“Iya, roti ini saya yang bikin.”, kata Pak Somad.
“Ooh, ya sudah. Saya pergi dulu. Makasih ya Pak..”, kata Pak Mokir.
Orang itu pergi begitu saja.
“Pak, itu siapa?”, tanya Bu Aliyah.
“Katanya sih namanya Mokir.”, jawab Pak Somad.
“Pak Mokir? Kaya baru dengar.”, kata Bu Aliyah.
“Iya, Bapak Juga. Di desa kita kan gak ada orang yang namanya Mokir.”, kata Pak Somad.
Keesokan harinya lagi, ketika Pak Somad sedang membuka kedainya lagi, tiba-tiba Ibu Selli datang bersama temannya.
“Wah, Ibu-ibu cantik. Mau beli apa, kok pagi-pagi sekali sudah datang?”, tanya Pak Somad.
“Pak Somad! Pak Somad jualan makanan basi ya?!”, tanya Ibu Selli.
“Kata siapa?”, tanya Pak Somad.
“Aku dengar dari ibu-ibu yang lain, katanya jualan Pak Somad basi semua.”, kata Ibu Selli.
“Wah, nggak bener itu. Waktu itu Ibu Selli juga beli roti dan gorengan di sini kan? Gak papa kan?”, kata Pak Somad.
“Kan itu sudah lama.”, kata Ibu Selli.
“Kayaknya bener deh, sekarang Pak Somad jualan makanan basi.”, kata Ibu Selli sambil nyungir-nyungir.
“Ayo jeng, kita pulang.”, Ibu Selli pergi bersama temannya itu.
Tidak lama setelah ibu-ibu rempong itu pulang, tiba-tiba saja Pak RT dan warga yang lainnya datang ke kedai Pak Somad.
“Pak Somad, keluar sekarang!”, teriak Pak RT.
“Iya, ada apa ya Pak, kok datang ke kedai saya ramai-ramai seperti ini?”, tanya Pak Somad.
“Pak Somad jualan makanan basi ya!?”, tanya Pak RT.
“Tidak Pak, saya tidak jualan makanan basi.”, kata Pak Somad.
“Kalau tidak percaya, coba saja cicipin jajajan saya.”, kata Pak Somad sambil menyodorkan aneka jajanannya.
Pak RT dan beberapa pemuda kekar lainnya mencicipi jajanan Pak Somad.
“Iya Pak, enak.”, kata salah satu pemuda itu setelah mencicipi jajanan Pak Somad.
“Ya sudah Pak Somad. Kalau gitu kita pamit.”, kata Pak RT.
Pak Somad heran, sebenarnya siapa yang menyebarkan hoax bahwa Pak Somad menjual makanan-makanan basi.
Suatu hari saat Ibu Aliyah, istri Pak Somad sedang belanja di luar, ia melihat dua orang pria sedang bercakap-cakap. Samar-samar ia mendengar, salah satu di antara mereka bernama Mokir. Dan mereka sedang membicarakan sebuah kedai yang katanya berhasil mereka buat sepi.
Ibu Aliyah mengingat seseorang bernama Mokir yang pernah beli jajan di kedai Pak Somad. Ibu Aliyah menyadari, ternyata Si Mokir itulah yang menyebarkan isu bahwa Kedai Pak Somad menjual makanan-makanan basi.
Ternyata Mokir adalah suruhan seseorang yang sedang membuka kedai baru. Agar kedai barunya ini ramai pembeli, ia menyuruh Mokir untuk menyebarkan isu tidak benar tentang Kedai Pak Somad.
Ibu Aliyah bergegas pulang untuk menceritakan hal ini kepada Pak Somad. Pak Somad kaget, ternyata pelakunya adalah seseoang yang bernama Mokir itu.
Pak Somad berniat mendatangi kedai pesaingnya itu untuk memberi pelajaran.
“Mohon maaf, ada perlu apa ya Pak?”, kata pesaing Pak Somad, mengetahui Pak Somad datang mencarinya.
“Sebelumnya perkenalkan, nama saya Somad.”, kata Pak Somad.
“Cuma mau bilang. Kamu itu, kalau mau buka kedai, mbok ya jangan dengan cara yang tidak baik.”, tambah Pak Somad.
“Ooh, jadi Pak Somad sudah tau ya. Syukur deh, kalo gitu saya gak perlu kasih tau.”, kata pesaing Pak Somad itu cengingisan.
Pak Somad pulang karena tak ingin masalahnya menjadi panjang.
Keesokan harinya Pak Somad kembali ke kedai baru pesaingnya itu. Pak Somad mencari Mokir dan pesaingnya untuk diajak berdamai.
“Begini, Mas. Jadi maksud kedatangan saya kesini, adalah untuk berdamai. Saya tidak ingin masalahnya menjadi panjang.”, kata Pak Somad.
“Tapi saya mohon, untuk tidak diulangi lagi.”, tambahnya.
“Kalau kalian masih mengulanginya lagi, dengan terpaksa akan saya bawa ke ranah hukum.”, ujar Pak Somad mengancam kedua pemuda itu.
“Iya Pak.”, kata Pak Mokir dan pesaing Pak Somad itu ketar-ketir.
Sekarang Pak Somad bisa pulang ke rumah untuk membuka kedainya dengan tenang. Pak Somad kembali beraktifitas mengelola kedai bersama keluarganya dengan penuh senyuman dan tawa, karena pesoalan penyebar isu itu sudah teratasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar