Si Pintar yang Tampan (Part 1)
Karya : Kinanti
Heri anak tunggal. Dia anak yang pintar. Dan wajahnya cukup tampan menurutku. Kami duduk di kelas lima. Kami sekelas.
Rumah Heri kebetulan hanya berjarak lima meter dari rumahku. Ayahnya bekerja di luar kota, dia di rumah hanya tinggal bersama ibunya. Di kelas, Heri disukai banyak anak perempuan.
“Berangkat ya, Heri?”, tanyaku.
“Iya nih. Berangkat bareng yuk.”, jawab Si Heri, mengajakku berangkat sekolah bareng.
(Waah, ini serius? Kesempatan nih, diboncengin sama Heri) gumamku dalam hati.
“Heh, kok diam sih. Jawab, mau nggak?”, tanya Heri.
“I-iya, aku mau.”, jawabku.
Kami berangkat sekolah bersama. Hatiku pun berbunga-bunga.
Setelah sampai di sekolah, aku pun langsung masuk kelas. Saat di kelas, Alex, Si Ketua Kelas melihatku sedang bersama Heri.
“Lex, kenapa kok gitu mukamu?”, tanya Heri.
“Oh, gapapa kok. Santai aja.”, jawab Si Alex.
“Oh ya sudah. Permisi ya.”, kata Alex.
“Oke.”, jawab Alex.
Wajah Alex tidak seperti biasanya. Dia seperti tidak suka aku dekat dengan Heri, tapi Alex hanya diam. Aku heran dengan Alex yang bertingkah seperti itu.
Saat jam istirahat, Heri sedang berada di WC siswa.
“Her, maumu apa dekati anak perempuan yang aku suka!?”, tanya Alex datang tiba-tiba.
“Maksudmu apa?”, jawab Si Heri.
“Teman-teman, maju!”, Alex menyuruh teman-temannya.
“Siap!”, jawab teman-temannya.
Heri ditampar dan dindang oleh teman-teman Alex.
“Braakk!!”, Heri ditendang hingga terlempar ke pintu WC dan kemudian disiram air.
“Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian membullyku?”, tanya Heri kesakitan.
“Hahahaha!!”, Alex dan teman-temannya tertawa dan meninggalkannya di WC.
Keesokan harinya Heri tidak berangkat sekolah. Aku penasaran, tidak biasanya Heri tidak berangkat sekolah.
Saat di kelas, tiba-tiba Ayah Heri datang menemui Pak Robi, guru kelas kami.
Aku semakin penasaran, pasti ada hubungannya dengan Alex.
“Alex.”, aku memanggil Si Ketua Kelas yang sok itu.
“Eh iya, ada apa Yes?”, tanya Alex kepadaku.
“Aku mau tanya.”
“Tanya apa?”
“Kemarin kamu sama Heri kan?”, tanyaku.
“Iya, memangnya kenapa?”, Alex balik bertanya.
“Sekarang Heri tidak masuk sekolah. Apa ini ada hubungannya sama kamu?”, tanyaku lagi.
“Nggak tau tuh.”, jawab Alex, tidak mau mengakui perbuatannya.
Saat istirahat, aku pergi ke kantin. Aku melihat Ayah Heri sedang memarahi Alex. Dugaanku semakin kuat bahwa ini adalah perbuatan Si Alex.
Keesokan harinya, Heri berangkat sekolah. Alex menemui Heri dan semakin benci dengan Heri.
“Heri, kamu mengadu sama ayahmu ya?”, tanya Alex.
“Mengadu apa?”, tanya Heri.
“Halah, jangan sok nggak tau deh kamu!”, jawab Alex.
“Maksud kamu apa Lex?”, tanya Heri.
“Teman-teman, hajar dia!”, Alex menyuruh teman-temannya menghajar Heri lagi.
“Siap Lex!”, jawab teman-temannya.
Heri dibawa ke kamar mandi lagi. Dia dihajar dan disiram air lagi oleh teman-teman Alex.
Heri kedinginan dan kesakitan. Tangan dan kakinya lebam terkena hantaman-hantaman teman-teman Alex. Aku yang mengintip dari luar tak berani berbuat apa-apa.
Namun kali ini Heri tidak hanya tinggal diam. Dia pun membalas, dan akhirnya mereka berkelahi.
Seorang guru yang mendengar di kamar mandi ada keributan langsung bergegas menghampirinya. Ditemukannya Heri, Alex, dan teman-temannya sedang berkelahi. Langsung saja Pak Guru membawa mereka ke ruang kepala sekolah.
Di ruang kepala sekolah, Heri, Alex, dan teman-temannya kena marah semuanya.
“Kalian ini, sudah besar kok masih saja suka berkelahi! Gak malu apa sama adik-adik kalian!?”, ucap kepala sekolah memarahi mereka.
“Dalam hal ini, baik Alex maupun Heri, semuanya bersalah!”, tegas pak kepala sekolah.
“Alex bersalah karena sudah membully teman!”
“Heri juga salah, karena melaporkan masalah di sekolah tidak kepada bapak-ibu guru di sekolah, tapi langsung bilang ke orang tua di rumah!”
“Yang lain juga, mau saja disuruh Alex untuk membully teman lainnya.”
Begitulah pak kepala sekolah menjelaskan kesalahan mereka. Mereka hanya menunduk tak berani berkata apa-apa.
“Janji tidak akan diulangi lagi!?”, tanya pak kepala sekolah memperingatkan mereka.
“Iya Pak, kami janji tidak akan mengulanginya lagi.”, jawab mereka serentak.
“Sekarang, kalian harus bermaafan!”, kata pak kepala sekolah.
“Maaf ya, Alex..” Heri menyodorkan tangannya ke Alex.
“Tidak!”, Alex menolak ajakan damai dari Heri.
“Loh, kenapa kamu menolak, Alex?”, pak kepala sekolah marah lagi.
Tiba-tiba Alex mendekat ke telinga Heri dan membisikkan sesuatu.
“Aku mau kita damai, tapi ada syaratnya.”, bisik Alex ke telinga Heri.
“Apa syaratnya?”, tanya Heri.
“Syaratnya, kamu tidak boleh mendekati Ayesha!”, jawab Alex.
“Oh, itu. Mudah saja.”, jawab Heri.
“Oke, kalau gitu kita damai.”, kata Alex sambil menjabat tangan Heri.
Setelah kejadian itu, Alex dan Heri terlihat akur kembali. Namun anehnya, Heri jadi agak menjaga jarak denganku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar