Indahnya Perbedaan (1)
Karya : Kinanti
Lyodra, anak umur delapan tahun, adalah anak yang taat beribadah. Terutama saat bulan puasa seperti ini, dia banyak menghabiskan waktu di rumah daripada bermain di luar. Alasannya satu, biar tidak cepat haus. Dia tinggal di sebuah desa bernama Desa Mentari.
Saat tengah hari, Lyodra menonton video di HP ibunya. Anehnya, saat bulan puasa seperti ini, yang lebih sering muncul adalah video-video seputar makanan. Karena tak ingin tergoda, Lyodra ganti menonton TV. Dan ternyata sama saja, hampir setiap menit ada iklan sirup yang menyegarkan berseliweran di sana.
Akhirnya Lyodra memutuskan untuk bermain di luar bersama teman-temannya.
“Ibu, aku mau main aja ah. Di TV isinya cuma iklan sirup mulu. Bikin haus aja!” ucap Lyodra.
“Ya sudah, kalau kamu mau main,” jawab Ibunya.
“Oke Bu. Dada.. aku mau main ya...”
Bersama teman-temannya, Lyodra bermain petak umpet. Selesai bermain, Lyodra merasa haus.
“Lyodra, kamu haus? Beli es di warung yuk...” ajak temannya yang bernama Raya.
“Hah? Aku kan puasa. Emang kamu gak puasa?” tanya Lyodra.
“Gak papa, batalin aja. Kamu haus kan?” kata Raya.
“Emang boleh ya, kita batalin puasa gara-gara haus main?”
“Boleh aja! Kita kan masih anak-anak...”
“Ayo deh”
Mereka ke warung dan membeli es di sana.
Setelah dari warung, Lyodra pun pulang. Sesampainya di rumah, dia ditanya sama ibunya.
“Lyodra, gimana puasanya? Masih lanjut kan?” tanya Ibu sambil mengupas bawang merah di dapur.
“Hehehe, aku batal Buk,” jawab Lyodra polos.
“Habis, tadi diajak teman-teman...”
Ibu Lyodra meletakkan pisau yang sedari tadi ia pegang dan menghela nafas, “... Ya sudah kalau begitu. Tapi besok lagi jangan diulangi lagi ya...”
Keesokan harinya, setelah selesai bermain bersama teman-temannya, Lyodra pulang dengan mulut yang belepotan. Ibunya kembali menanyainya,
“Kamu habis batal puasa lagi?” tanya Ibu.
“I-iya Bu, maaf...” jawab Lyodra lirih.
“Sini ikut Ibuk...” Ibu menyeret Lyodra ke kamar dan menguncinya di dalam.
“Ibu, maaf Bu.. Aku gak akan mengulanginya lagi...” teriak Lyodra sambil nangis di dalam kamar.
Lyodra dikunci ibunya di dalam kamar, dan tidak dibukakan pintu sampai tiba waktu buka puasa. Lyodra benar-benar menyesali perbuatannya.
Keesokan harinya, Lyodra masih pergi bermain lagi bersama teman-temannya.
“Lyodra, jajan di warung yuk!” ajak teman-temannya.
“Nggak ah!” jawab Lyodra tegas.
“Kenapa Dra?” tanya Si Raya.
“Nanti aku dimarahin sama Ibu,” jawab Lyodra.
“Emang kenapa kalau batal puasa Dra?” kata Alfa, teman Lyodra yang sepertinya tidak tau apa-apa soal puasa Ramadhan.
“Ayo teman-teman, kita tinggalin aja Lyodra...”
Teman-teman Lyodra ke warung tanpa Lyodra. Mereka mengejek Lyodra karena tidak mau diajak jajan di warung. Lyodra menangis dan pulang ke rumah.
“Kamu kenapa?” tanya Ibu.
“Aku dibully teman-teman Bu, gara-gara nggak mau diajak jajan di warung...” jawab Lyodra.
“Ya sudah, nggak papa,” kata Ibu.
“Justru ini lebih baik buat kamu” Ibu menambahkan.
Setelah Lyodra berhenti menangis, dia diajak ibunya ke masjid untuk mengaji.
“Nah, gini kan baik. Saat bulan puasa, itu perbanyak ibadah, bukannya main...” kata Ibu.
Lucunya, saat perjalanan menuju ke masjid, Lyodra beserta ibunya bertemu Raya, Alfa, dan Ibrahim sedang dimarahi oleh ayah dan ibu mereka, pulang dari warung tempat tadi mereka jajan. Dan tak lama setelah itu, Raya dan Ibrahim ternyata juga ikut mengaji di masjid. Tapi Lyodra tidak melihat Alfa.
“Bahim, Alfa mana?” tanya Lyodra.
“Tau tuh...” jawab Ibrahim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar