Jangan Sombong
Karya : Rizma
Aska adalah anak kelas lima sekolah dasar, dia tinggal di Semarang. Aska sangat rajin sekali mengerjakan pekerjaan rumahnya. Dia mempunyai teman bernama Rio dan Rayyan.
Suatu hari saat Aska berangkat ke sekolah, dia bertemu dengan sahabat dekatnya, Rio.
“Rio, kamu sudah mengerjakan PR?”, tanya Aska.
“Sudah. Kalau kamu Aska, kamu sudah ngerjain PR?”, tanya Rio.
“Udah sih, tapi nomor lima belum, susah.”, jawab Aska.
“Aku udah nomor lima.”, kata Rio.
“Serius? Boleh nyontek gak?”, tanya Aska.
“Tapi kan, kata Bu Guru gak boleh nyontek.”, jawab Rio.
“Ya udah deh.”
“Tapi kalo aku dihukum gimana?”, tanya Aska dengan wajah memelas.
“Tuh Bu Guru datang.”, kata Rio.
“Anak-anak, besok ada pengumuman juara kelas ya.”, kata Bu Guru.
“Iya Bu.”, jawab murid-murid.
Keesokan harinya, pengumuman juara kelas pun dimulai.
“Pemenangnya adalah.. Aska..”, kata Bu Guru sambil membimbing anak-anak untuk bertepuk tangan.
“Yei.. akhirnya aku menang.”, kata Aska.
Murid-murid yang lain hanya melongo melihat Aska yang cengengesan berbinar-binar mendapat sanjungan dari teman-teman sekelas. Karena mereka tak habis pikir, bagaimana bisa Aska menjadi juara kelas. Padahal kemampuannya selalu pas-pasan.
“Apa? Pada iri ya sama aku? Aku kan paling pintar di sekolah ini. Hahaha..”, kata Aska dengan senangnya.
Sejak Aska mendapat juara kelas, dia menjadi sangat sombong sekali.
Keesokan harinya..
“Selamat ya Aska.”, kata Rio.
“Siapa kamu? Sok kenal!”, kata Aska.
“Aku temanmu, Rio, Aska!”, jawab Rio.
“Kayaknya aku gak punya teman yang namanya Rio deh.”, ucap Aska.
“Masa kamu lupa sama temanmu sendiri sih.”
“Ya sudah, aku pergi saja. Kelihatannya kamu sudah punya teman baru.”, kata Rio dengan sedih.
Aska tidak mau lagi berteman dengan Rio. Malah Aska lebih memilih berteman dengan anak-anak yang populer di sekolah.
Hingga suatu hari..
“Aska, aku pinjam uang dong. Kamu kan habis jadi juara kelas.”, kata Rayyan, salah satu teman baru Aska.
“Loh, kemarin kan kamu sudah tak pinjamin.”, ucap Aska.
“Pelit banget sih!”, Rayyan membentak Aska.
“Asal kamu tau ya, kamu tuh gak pantas jadi juara kelas.”, kata Rayyan.
“Ayo teman-teman, Aska tidak pantas jadi teman kita. Hahaha.”, Rayyan tertawa bersama teman-teman lainnya pergi meninggalkan Aska.
Ternyata Aska hanya dimanfaatkan oleh teman-teman barunya. Aska menyesal. Dia teringat dengan teman lamanya, Rio, dan ingin berteman lagi dengannya.
“Rio.”, Aska menghampiri Rio yang sedang duduk sendiri di taman.
“Kenapa? Katanya kamu tidak kenal sama aku.”, kata Rio.
“Maafin aku ya. Aku menyesal karena pura-pura tidak kenal kamu. Aku terbawa suasana. Ternyata anak-anak itu hanya manfaatin aku.”, ucap Aska.
Rio terdiam seolah tak menghiraukannya.
“Kamu marah ya?”, Aska semakin sedih karena teman lamanya sepertinya tak mau lagi menerimanya.
Namun tiba-tiba Rio tersenyum.
“Hahaha. Aska, Aska.”
“Aku sudah maafin kamu kok.”, kata Rio.
“Benarkah?”, tanya Aska.
“Tapi dengan satu syarat, jangan diulangi lagi ya.”, kata Rio.
“Iya, aku tidak akan mengilanginya lagi.”, kata Aska.
“Kalo gitu bagus deh.”, kata Rio.
“Makasih ya Rio, kamu sudah maafin aku dan mau menerimaku jadi temanmu lagi.”, kata Aska.
“Loh, kamu masih tetap jadi temanku kan?”, kata Rio.
“Hahahahaa..”, mereka tertawa bersama.
Dan akhirnya Aska dan Rio berteman kembali. Mereka tidak peduli jika suatu saat ada penghargaan-penghargaan lain lagi yang mungkin saja membuat mereka terkenal di sekolah, mereka tetap bersahabat selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar