Bonbon Si Lele Albino
Penulis : Admin
Bonbon adalah seekor Lele Albino milik seorang pemuda yang bernama Iskak. Lele tersebut merupakan pemberian mendiang ayahnya dulu saat ia masih kecil. Anehnya, Lele tersebut tidak bertambah besar meski sekarang Iskak sudah berkeluarga.
"Le, peliharalah Lele ini. Dia membawa keberuntungan", kata ayah Iskak dulu ketika memberikan Lele Albino itu kepadanya.
"Kok warnanya putih?", tanya Iskak.
"Iya, ini Lele Albino. Dia sangat langka.", jawab ayah Iskak.
"Wah, benarkah?", tanya Iskak kagum.
"Iya", jawab ayahnya.
"Tapi ingat, jangan pernah coba-coba untuk memakannya, atau menjualnya. Nanti kamu akan kena sial.", tambah ayahnya.
"Benarkah?", Iskak penasaran.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan merawatnya dengan baik.", ucap Iskak kepada ayahnya.
"Karena waranmu putih kejambon-jambonan, mulai sekarang aku panggil kamu Bonbon ya..", ucap Iskak kepada Lele Albino itu.
Iskak sangat menyayangi Lele Albino pemberian ayahnya itu. Selain karena warnanya yang unik, Lele tersebut merupakan peninggalan ayahnya yang meninggal tak lama setelah memerberikan Lele itu kepadanya.
Hingga suatu hari ketika kolam Bonbon kotor, Iskak menindahkannya ke ember agar ia bisa membersihkan kolamnya. Namun tanpa sengaja istrinya membuang air di ember itu. Dia tidak melihat ada Bonbon di sana.
"Ibuk! Ibuk membuang air di ember ini?", tanya Iskak kepada istrinya.
"Iya, memangnya kenapa Pak?", tanya istrinya.
"Waduuhh, tadi ada Bonbon di sana. Ibuk tidak lihat?", tanya Iskak kesal.
"Tidak lihat tuh", jawab istrinya ketus.
"Lagian Bapak ini, Lelee terus yang diurusin. Kita ini sudah sepuluh tahun menikah Pak, belum juga punya anak. Mbok ya cari cara gimana biar bisa punya anak.", tambahnya.
Iskak sangat marah. Namun dia juga sedih dan bingung harus berkata apa. Karena sampai saat ini dia belum bisa memberi istrinya keturunan.
Iskak diam seribu bahasa. Tanpa sepatah kata ia pergi meninggalkan istrinya untuk mencari Bonbon. Ia menyusuri sungai yang mengalir di belakang rumahnya.
Lama sekali Iskak mencari, namun belum juga menemukan Bonbon. Hingga sampailah dia di sebuah pasar yang letaknya tak jauh dari sungai.
"Pak, ada kerumunan ramai sekali, sedang ada promo apa ya Pak?, tanya Iskak kepada Tukang Parkir.
"Oh, itu anu Mas, Lele Albino.", jawab Tukang Parkir.
Hah, Lele Albino? Jangan-jangan..
Iskak bergegas menerobos kerumunan itu.
"Bagi siapa saja yang mampu membayar dengan harga tertinggi, akan menjadi pemilik Lele Albino ini. Kami buka dengan harga mulai dari sepuluh juta!", ucap petugas lelang di pasar itu.
"Dua puluh juta!", ucap seorang kakek-kakek di barisan paling depan dengan mengangkat tangannya.
"Aku berani membayarnya lima puluh juta!", ucap seorang perempuan yaang duduk di belakang kakek itu.
"SERATUS JUTA!!"
Seketika semua pandangan tertuju ke barisan paling belakang yang ternyata itu adalah Iskak.
Sang petugas lelang melongo melihat seorang penawar dengan harga yang sangat fantastis itu. Sampai teman di sampingnya menyenggolnya agar ia menyelesaikan proses lelang.
"Baik, seratus juta. Ada yang berani lebih tinggi??", teriak Petugas Lelang.
Tentu saja tak ada yang berani menawar dengan harga di atas seratus juta. Siapa yang mau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya demi seekor Ikan Lele?
Akhirnya Lele itu terbeli oleh Iskak.
"Akhirnya kita bisa bersama lagi ya, Bonbon. Ayo kita pulang. Ibuk sudah menunggu.", ucap Iskak haru sambil menciumi bak kaca tempat Bonbon itu.
Di tengah jalan, Iskak dihadang segerombolan preman lengkap dengan senjata tajam.
"Serahkan Lele itu kepada kami!", ucap salah seorang preman di antara mereka. Sepertinya dia adalah pimpinannya.
"Aku tidak akan menyerahkan Bonbon kepada kalian!", ucap Iskak kepada mereka.
"Kalau begitu, bersiaplah untuk mati!", gertak pimpinan gerombolan preman itu sambil menghunuskan pisau tajam ke arah Iskak.
Iskak berhasil mengalau serangan preman itu. Dan terjadilah pertarungan sengit antara Iskak dengan gerombolan preman itu.
Dengan menenteng bak kaca tempat Bonbon, Iskak menangkis serangan demi serangan dari preman-preman itu. Hingga tak sengaja sebuah pisau terlempar dan menyasar tepat ke Arah Bonbon.
Seketika air di bak kaca memerah, Bonbon terluka.
Preman-preman itu panik dan segera mundur.
Iskak mengambil Bonbon yang sudah mengapung di atas air dengan sebuah pisau yang tertancap di perutnya.
"Bonbon, bertahanlah!", teriak Iskak menangis sejadi-jadinya.
Bonbon sudah tidak bernapas. Bonbon mati.
Diambilnya pisau itu, Iskak berencana hendak membalas dendam.
Tiba-tiba saja bak kaca yang berisi air dengan lumuran darah Bonbon itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Muncullah sesosok Pangeran dengan jubah emas yang ternyata adalah Roh dari Lele Albino itu.
"Ayah, sudahlah. Tak usah kau balas kematianku dengan melakukan hal yang sama kepada orang lain, karena akan sia-sia.", ucap Arwah Sang Pangeran itu.
Iskak tidak mengerti. Ia memandanginya dengan perasaan takut dan heran. Semua yang berada di sana terperanga dengan pemandangan itu.
Tatapan Arwah Sang Pangeran tertuju kepada para preman.
"Kalian.."
Baru saja Arwah Sang Pangeran memanggil, mereka lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu.
"Jadi inikah wujud aslimu?", tanya Iskak kepada Arwah Sang Pangeran.
"Iya. Tapi tak usah khawatir. Memang waktuku sudah habis.", kata Arwah Sang Pangeran.
"Sekarang pulanglah. Ibuk sudah menunggu. Tidak lama lagi dia akan mengandung. Mengandung anak kalian sendiri.", tambahnya.
"Tapi, bagaimana bisa..", Iskak masih tidak mengerti.
"Sudah ya, aku harus pergi. Terimakasih karena sudah merawatku, Ayah.", kata Arwah Sang Pangeran yang perlahan naik ke angkasa dan kemudian menghilang.
Iskak pun bergegas pulang dan menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya itu kepada istrinya. Ajaibnya, memang benar apa yang dikatakan Arwah Sang Pangeran. Tak lama setelah itu, istrinya hamil. Dan setelah sembilan bulan anak yang dikandungnya itu lahir. Diberinya nama anak itu, Naga Bonar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar