Senin, 23 Januari 2023

Anak yang Durhaka

 

Anak yang Durhaka

Karya : Kinanti

Di daerah Lombok, hiduplah keluarga sederhana. Keluarga itu terdiri dari seorang ayah dan beberapa anaknya yang masih kecil. Mereka bernama Arfan, Elvin, Veli, dan Arkan. Ibu mereka meninggal saat melahirkan Arkan.

Arfan adalah anak pertama, dia duduk di kelas delapan Sekolah Menengah Pertama. Sebagai anak pertama laki-laki, dia sering menggantikan sosok ayahnya dalam menjaga adik-adiknya.

“Arfan, tolong jaga adik-adikmu ya.”, kata Ayah.

“Iya, yah.”, jawab Arfan.

“Ayah mau kemana?”, Arfan bertanya.

“Ayah mau ke pasar dulu.”, jawab ayah Arfan.

“Oh, iya.”, jawab Arfan.

Saat itu masih pagi sekali, adik-adik Arfan belum bangun. Seperti biasa, Arfan harus mengurusi adik-adiknya saat Ayahnya pergi ke pasar.

Siang harinya ketika Arfan pulang sekolah, ada hal yang sepertinya sangat penting sekali untuk dia sampaikan ke Ayahnya.

“Asslaamu’alaikum..”

“Wa’alaikumusalam..”

“Yah, aku mau bilang sesuatu, boleh tidak?”, tanya Arfan.

“Bilang apa?”, tanya Ayah.

“Teman-temanku di sekolah ada yang membawa motor, ada yang membawa mobil.”, kata Arfan.

“Iya, terus kenapa?”, tanya Ayah.

“Jadi gini, Yah. Aku boleh tidak, bawa mobil atau motor ke sekolah?”, tanya Arfan.

“Tidak boleh!”, jawab Ayah.

“Kenapa tidak boleh?”, tanya Arfan.

“Anak SMP kok mau bawa mobil. Lagian, uang dari mana?”, tanya Ayah.

“Kan tabungan Ibu masih banyak kan..”, jawab Arfan dengan nada tinggi.

“Tabungan Ibu sudah digunakan buat membayar sekolah kamu..”, jawab Ayah.

Arfan tidak percaya dengan omongan Ayah, karena ia ingat betul apa yang pernah dikatakan ibunya.

Hingga suatu hari, Arfan menemukan sebuah surat yang ditulis oleh Ibunya. Dalam surat itu Ibu menyampaikan pesan, bahwa Ibu masih punya tabungan yang cukup banyak, cukup untuk memberikan Arfan dan adik-adiknya kehidupan yang lebih layak.

Kemudian Arfan terkejut, ketika dalam surat itu Ibu menyampaikan, bahwa Ayah mereka berencana melenyapkan Ibu mereka, agar ia bisa mendapatkan harta Ibunya. Dan ini membuat Arfan berpikir bahwa Ayahnyalah dalang di balik kematian Ibunya.

Arfan marah besar melihat isi surat itu. Ia pun berencana ingin melakukan sesuatu kepada Ayahnya.

Pada suatu malam, Arfan masuk ke dalam kamar Ayahnya. Ayahnya mendengar suara pintu terbuka. Tiba-tiba sebuah tikaman pisau tajam mendarat di perutnya.

“Aaaa....”, Ayah Arfan berteriak sekencang-kencangnya.

Pak RT yang mendengar teriakan dari rumah Arfan, seketika pergi kesana untuk memeriksa. Namun terlambat, Ayah Arfan tidak terselamatkan, Ayah Arfan sudah tak bernyawa.

Arfan yang masih berdiri di sana dengan pisau berlumuran darah di tangannya merasa bingung dan ketakutan, langsung diamankan Pak RT dan membawanya ke kantor polisi.

“Ya Allah.. Aku menyesal. Kenapa Aku berbuat seperti itu? Ayah..”, Arfan menangis menyesali perbuatannya.

Di penjara, Arfan bertaubat, dan berjanji akan menjadi anak yang baik.

Saat keluar dari penjara, Arfan mejadi anak yang baik. Dia menggantikan Ayahnya menjaga adik-adiknya dan menjadi kepala keluarga untuk mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Perbedaan (3)

Indahnya Perbedaan (3) Karya : Kinanti Siang hari itu, teman-teman Lyodra menghampiri Lyodra untuk diajak bermain di tempat biasa mere...