Puput Si Kelinci Putih
Karya : Erni Dwi Imanda
Puput adalah seekor kelinci berwarna putih milik seorang anak bernama Febri. Kelinci itu merupakan pemberian Ibunya. Mereka tinggal di sebuah desa yang dekat dengan jalan raya.
“Tolong jaga kelinci itu dengan baik ya.”, pesan Ibu Febri.
“Iya, Ibu.”, jawab Febri.
“Ibu, kenapa kelincinya dikasih nama Puput?”, tanya Febri.
“Iya, karena bulunya warnanya putih.”, jawab Ibu.
Pada suatu hari Puput diajak jalan-jalan bersama Febri. Tidak lupa Febri membawa kandangnya juga, agar Puput tidak lepas. Saat sudah di jalan, tiba-tiba Ibunya memanggil. Akhirnya Febri kembali menghampiri Ibunya. Karena berat, Puput beserta kandanganya ia letakkan di sebelah batu besar di pinggir jalan.
Begitu Febri kembali, Kandang Puput terbuka, dan Puput tidak ada di dalamnya. Baru saja ada dua orang anak yang tidak sengaja menyenggol kandang Puput sehingga pintunya terbuka. Febri kepanikan dan langsung mencarinya.
“Puput, kamu dimana?”, Febri mencari Puput.
“Ibu, Puput hilang, Bu!”, ucap Febri kepada Ibunya.
“Yang Benar?!”, tanya Ibu Febri.
“Iya, Bu.”, jawab Febri.
Tiba-tiba Febri melihat Puput sudah berada di seberang jalan.
“Ibu, itu kelincinya! Puput, Bu!”, kata Febri.
“Iya, tunggu sebentar, Ibu ambilkan.”, kata Ibu Febri.
Namun saat hendak mengambil kelinci itu, dari arah kanan terlihat sebuah mobil melaju dengan begitu kencangnya. Tak sempat Ibu menyelamatkan Puput, ia tertabrak mobil itu. Febri sangat marah dan berencana ingin mencari mobil itu, untuk memberi pelajaran orang yang mengendarainya.
Hari sudah gelap. Saat Febri sedang beristirahat di kamarnya, tiba-tiba terdengar suara dari arah jendela.
“Febri..”, suara itu memanggil Febri.
“Siapa itu??”, Febri penasaran.
“Ini Aku, Puput.”
“Hah? Benarkah?”, kata Febri, antara takut dan penasaran.
“Febri, kamu tak perlu mencari mobil itu.”, kata suara itu.
“Memangnya kenapa?”, tanya Febri.
“Mobil itu sudah menabrak kelinci kesayanganku, dia berhak mendapatkan pelajaran!”, tambahnya.
“Febri. Semua yang pergi tak akan pernah kembali. Balas dendam bukanlah jawabannya. Ikhlas dan memaafkan adalah cara terbaik untuk berdamai dengan diri sendiri.”, suara itu mengeluarkan kata-kata yang sulit dimengerti Febri.
“Tapi..”, Febri tak tau harus berkata apa.
“Sudah. Ikhlaskan saja. Aku bahagia kok disini. Aku doakan, semoga kamu segera mendapatkan kelinci yang lebih baik lagi dariku.”, ujar suara itu.
Begitulah suara misterius itu memberi nasahat Febri. Setelah menyampaikan pesan-pesan itu, suara itu tak terdengar lagi.
Keesokan harinya, Febri bercerita kepada Ibunya perihal kejadian yang dialaminya semalam. Dan Ibunya senyum-senyum, karena yang semalam itu ternyata adalah suaranya.
“Semua yang pergi, harus kita ikhlaskan.”, kata Ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar