Kamis, 02 Februari 2023

Petani

Petani

Karya : Ilmira

Pak Sabar adalah seorang petani di sebuah desa bernama Desa Sawi. Dia sangat bangga dengan pekerjaannya. Pak Sabar sangat rajin pergi ke sawah untuk mencangkul, menanam padi, dan sebagainya. Meskipun kadang ia sakit, Pak Sabar tetap berangkat ke sawah untuk menggarap sawahya.

“Pak Sabar kok raji sekali ke sawahnya?”, tanya Pak Samat.

“Iya Pak Samat, biar hasil panennya melimpah.”, kata Pak Sabar.

 “Selain itu, dengan beraktivitas di sawah, tubuh saya menjadi lebih sehat.”, tambahnya.

“Oh gitu.”, kata Pak Samat.

Pagi itu saat Pak Sabar mau pergi ke sawah bertemu dengan Pak Samat, kemudian mereka bercakap-cakap. Sesampainya di sawah,

“Waduh, kenapa ini??”, Pak Sabar kaget begitu melihat sawahnya rusak, seperti diserang tikus.

“Alamat tidak bisa panen ini..”, tambah Pak Sabar sambil memegangi kepalanya.

Pak Sabar sedih, marah, bingung, dan panik karena sawahnya hancur. Selain itu Pak Sabar juga takut karena tidak bisa membayar hutang bank untuk modal pertaniannya.

Hari-hari di mana Pak Sabar biasa menjalaninya dengan semangat pergi ke sawah, kini lebih sering ia habiskan untuk melamun di teras rumah. Sampai tiba saatnya panen raya, seorang petugas bank datang ke rumahnya.

“Mohon maaf Pak Sabar, sesuai tanggal yang sudah dijanjikan, ini sudah saatnya Pak Sabar membayar hutang Pak Sabar.”, kata petugas bank itu.

“Mohon maaf Mas, anu, untuk saat ini,  sepertinya saya belum bisa bayar.”, kata Pak Sabar.

“Kenapa ya Pak?”, tanya petugas bank itu.

“Sawah saya rusak Mas, diserang hama tikus. Jadinya, saya gagal panen.”, kata Pak Sabar.

“Oh gitu.”, kata petugas bank itu.

“Kalau begitu, kira-kira kapan Pak Sabar bisa melunasi hutang Pak Sabar?”, tanya kembali petugas bank itu.

“Begini saja. Beri saya waktu dua hari.”, kata Pak Sabar.

“Sebagai jaminannya?”, tanya petugas bank itu.

“Kalau dalam waktu dua hari saya belum bisa melunasi hutang saya, sebagai jaminannya, ya.. silakan ambil saja sawah saya.”, kata Pak Sabar.

Setelah dua hari, Pak Sabar masih belum bisa melunasi hutangnya. Dan kini sawahnya harus disegel oleh pihak bank.

Hari-hari Pak Sabar semakin tak tentu arah. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah gagal panen, dan kini sawahnya harus disita bank.

Sampai suatu hari petugas bank itu kembali ke rumah Pak Sabar.

“Pak Sabar, selamat, hutang Pak Sabar sudah lunas. Untuk segelnya, sudah saya copot.”, kata petugas bank itu.

“Hah? Lunas? Siapa yang bayar Mas?”, tanya Pak Sabar keheranan.

Tiba-tiba seorang pemuda yang ternyata adalah tetangga Pak Sabar sendiri, masuk ke rumah Pak Sabar.

“Pemuda ini yang sudah melunasi hutang Pak Sabar.”, kata petugas bank itu.

“MasyaAllah. Kok baik sekali kamu, Nang. Tapi kenapa? Kenapa kamu bayarin hutang Pak Sabar?”, tanya Pak Sabar.

“Jadi gini Pak. Saya ingat, dulu almarhum bapak saya pernah ditolong oleh Pak Sabar. Jadi, anggap saja ini balas budi dari almarhum bapak saya.”, kata pemuda itu.

“Alhamdulillah.. Terimasih, yo Nang..”, kata Pak Sabar haru.

Akhirnya sawah Pak Sabar kembali. Dan kini Pak Sabar bisa kembali beraktivitas ke sawah seperti biasanya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Perbedaan (3)

Indahnya Perbedaan (3) Karya : Kinanti Siang hari itu, teman-teman Lyodra menghampiri Lyodra untuk diajak bermain di tempat biasa mere...